Home Aqidah Menyelami Makna Laa ilaaha illallah

Menyelami Makna Laa ilaaha illallah

312
0

Dalam karyanya, Tafsir Al-Asma’ wa Ash-Shifat, Al Imam Abu Manshur Al Baghdadi berkata:

إن هذا الحيوان ينام في النار

“Sesungguhnya hewan ini — samandal– dengan nyaman dapat tidur di atas api.”

Pakar bahasa, Al-Jawhari dalam kamus Ash-Shihah menyebutnya ‘sandal’ (tanpa huruf mim). Sementara Ibnu Kholikan menyebutnya dengan samand (tanpa huruf lam). Ia dapat terbang. Makanannya ‘bisy’, tumbuhan berwarna hijau yang terdapat di Cina. Kabarnya, tumbuhan ini jika kering menjadi bahan makanan penduduk Tiongkok. Namun bagi orang yang ‘jauh’ dari Cina, walaupun hanya beberapa hasta, maka sangat berbahaya jika mengkonsumsi nya.

Disebutkan, keajaiban hewan ini ia justru nyaman jika berada di dalam api dan betah berlama-lama di sana. Jika tubuhnya kotor maka tidak akan dapat dibersihkan kecuali dengan api. Terdapat banyak di India, berbadan lebih kecil daripada kelinci, bermata merah, berekor panjang.

Para ulama sering mencontohkan hewan ini sebagai keyakinan kuat mereka bahwa Allah-lah pencipta “sabab”, diantaranya api. Dan Allah lah pencipta musabbab di antaranya panas ketika ada yang bersentuhan dengan api. Namun sabab tidaklah menciptakan musabbab. Api tidaklah menciptakan panas.

Karenanya penting untuk mengetahui bahwa makna yang kuat bagi kalimat لا اله إلا الله adalah لا خالق إلا الله sebagaimana pendapatnya Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Yakni, tidak ada yang mampu menciptakan segala sesuatu baik benda dan sifat-sifatnya dari tidak ada menjadi (Khaliq) ada kecuali Allah. Lafafz al-ilaah / tuhan ditafsirkan oleh Abu Manshur Al-Baghdadi sebagai al-Khaliq/ Maha Pencipta.

Nah, dari makna inilah terdapat makna turunan makna لا إله إلا الله menjadi لا معبود بحق إلا الله. Tidak ada yang hak untuk disembah kecuali Allah. Kenapa ada makna turunan ini? Karena, yang menciptakan segala sesuatu tentu Dia lah yang memiliki seluruh ciptaan Nya. Karena Dia pemilik segala sesuatu, maka Dia lah yang mempunyai otoritas mutlak untuk memerintah dan mencegah. Diantara perintah-Nya adalah beribadah (menyembah) hanya kepada-Nya. Dan melarang kita menyekutukan Nya dengan apapun.

Makna yang pertama, menurut ulama, tentu lebih kuat daripada makna yang kedua. Karena makna yang kedua sudah tercakup pada makna syahadat tauhid yang pertama. (Abdul Haq)

Wallahu A’lam bis-Shawab

*Tulisan ini pernah dimuat di islami.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here