Home Khazanah Belajar Mengajar Dengan Ikhlas

Belajar Mengajar Dengan Ikhlas

52
0

Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes (1 Ramadlan 1440 H), mengadakan pengajian setiap sore hari, yang disampaikan langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren KH. Subhan Ma’mun. Pengajian yang diadakan untuk masyarakat umun dan santri dimulai jam 15.30 sampai 17.15 WIB.

Ngaji Ramadlanan atau pasaran puasanan untuk umum diikuti ribuan orang yang terdiri dari masyarakat Brebes dan sekitarnya serta para santri di Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes. Kegiatan ngaji di bulan Ramadlan dalam setiap tahunnya sangat ramai, mereka yang hadir ada yang berjalan kaki, naik sepeda motor dan juga rombongan pakai mobil.

Ngaji pada Bulan Ramadlan pada tahun 1440 H, kitab yang dikaji adalah “Bidayatul Hidayah” karya Imam Al-Ghozali, bertempat di halaman Pondok Pesantren Assalafiyah. Namun karena luas halaman pondok tidak mampu menampung semua jamaah yang ikut ngaji. Sehingga mereka yang ngaji, ada yang di jalan di sekitar pondok pesantren, aula, kelas dan dalam pondok.

Seperti biasanya ngaji pertama, dimulai dengan membacakan Surat Al-Fatihah untuk para ulama seperti Imam Nawawi, Imam Syafii, Imam Ghozali dan para guru KH. Subhan. Beliau juga menyampaikan keilmuan yang dimiliki oleh pengarang kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghozali.

Setelah membaca Al-Fatihah hamdalah kemudian membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Nabi yang juga seorang hamba Allah, bukan anak Tuhan. Hamba Allah yang menjadi utusan-Nya, dengan memiliki kemuliaan dalam sejarah hidupnya sejak kecil. Nabi yang tidak pernah menguap dalam hidupnya, tidak pernah dihinggapi lalat, mengetahui kondisi orang yang berjalan di belakangnya sebagaimana umumnya orang yang mengetahui berjalan di depannya. Nabi yang ketika kencing tidak ada bekasnya, hatinya tidak pernah tidur, walaupun matanya mengantuk.

Nabi yang memiliki cahaya di atas cahaya, belikat dua (pundak) Nabi lebih tinggi dari siapapun bila beliau duduk bersama yang lain dan dalam keistimewaan yang dimiliki Rasulullah Muhammad SAW, beliau ketika lahir sudah di khitan.

Dalam ngaji kali ini, Kang Kaji panggilan akrab beliau, mengingatkan. Bahwa orang yang mau belajar, harus diawali dengan kecintaan ilmu. Kalau ingin ngambil ilmu atau ngaji, dengan tujuan kesombongan agar menjadi orang terdepan dari teman-temannya, atau semua orang tunduk dengannya. Maka niatan seperti ini, termasuk orang yang akan menghancurkan agama.

Niatlah, tujuan mencari ilmu karena Allah SWT. Kalaupun nanti setelah memiliki ilmu, akhirnya bekerja untuk Negara, perusahaan, pendidikan tidaklah menjadi masalah. Karena hal itu dapat disebut ilmu yang bermanfaat (mendatangkan kebahagiaan).

Menjadi guru yang ikhlas, akan mendatangkan murid yang ikhlas pula. Namun jika mencari ilmu karena alasan kepentingan dunia, maka secara otomatis gurunya juga akan terkena imbas dari perbuatan (niat) mencari ilmu tersebut. Maka jadikan dalam proses belajar dan mengajar menjadi ikhlas, agar yang didapat bermanfaat dan mendapat ridho Allah SWT.

Mengajar dengan tidak ihklas bagaikan menjual pedang pada perampok, yang dimungkinkan akan digunakan pada hal-hal yang kurang baik, seperti untuk merampok pula. Jadikan dunia sebagai taman akhirat, yang nantinya pada saat di akhirat akan memanennya. Amin. Wallahu ‘alam bishowab. (Lukman Nur Hakim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here