Home Jejak Ulama Dakwah KH. Hisyam Yaqub di Pusat Kota Brebes

Dakwah KH. Hisyam Yaqub di Pusat Kota Brebes

318
0

KH. Hisyam Yaqub, adalah salah satu dari pendiri pondok yang ada di Kabupaten Brebes. Tepatnya di pedukuhan Gamprit Pasarbatang Brebes. Sekitar 1 km ke utara dari Alun-alun Kota Brebes.

Beliau lahir di Cirebon, tepatnya di Desa Karang Suwung pada tahun 1919 M. Ayahnya bernama Ya’qub dan ibunya Sholikha. Beliau memiliki satu istri bernama Rosidah dari Kleben, Brebes. Dalam pernikahan dengan Nyai Rosidah dikarunia 12 anak. Namun yang hidup sampai dewasa ada 9 Yaitu : Choridah Hisyam, Cholifah Hisyam, Akhmad Agil Hisyam, Dra. Hj Chulasoh Hisyam, H. Akhmad Imron Hisyam, SH., Dra. Faridah Rahmawati Hisyam, H. Akhmad Bisri Hisyam, Fasichah Hisyam dan Drs. Akhmad Faozan, M.Pd

KH. Hisyam, dulunya bernama Abdul Rohim. Pada saat haji beliau namanya diganti Hisyam. Menurut catatan keluarga, beliau termasuk masih keturunan Sunan Gunungjati yang ke-12.

Sebenarnya beliau memiliki lima bersaudara, tiga perempuan dan 2 laki. Yang laki-laki beliau sendiri sebagai anak pertama dan adiknya K. Ahmad, yang juga pendiri Pondok Pesantren Darul Abror Pasarbatang Brebes. Sedangkan yang perempuan semuanya menetap di Cirebon.

Ketika mondok di pesantren beliau tidak dibiayai oleh orang tuanya karena keterbatasan ekonomi. Beliau menjual tinta asahan untuk memaknai kitab, yang diajarakan para kyai maupun ustadz yang ada di pondok pesantren.

Beberapa pondok pesantren yang pernah beliau belajar adalah ; Pondok pesantren
Kempek cirebon, yang diasuh Kyai Akil Siraj, Kaliwungu kendal, Tebu ireng jombang dan Watu Congol Mbah Dalhar Magelang.

Pendirian Pondok Pesantren berawal setelah Kyai Hiyam sepulang Haji. Beliau matur kepada orang tuanya, dan Alhamdulillah Kyai Yaqub menyetujuinya, namun dengan catatan, ketika membangun pondok tidak boleh melebihi 100 hari.

Setelah mendapat ijin dari orantuanya, Kyai Hisyam mencoba mencari tanah untuk tempat pendirian pondok. Ternyata tidak terlalu lama dalam proses pencarian tanah tersebut.

Alhamdulillah ada seorang pengusaha, bernama H. Sofan. Memberikan tanahnya seluas 1200 M. Yang ada di gamprit untuk pendirian pondok. Setelah mendapatkan tanah, mulailah dibangun pondok, dan ternyata waktu yang diberikan oleh Kyai Yaqub 100 hari dapat diselesaikan dalam waktu 98 hari. Jadi kurang 2 hari seratusnya.

Ada hal yang disembuyikan oleh Kyai Hisyam dalam keluarga. Kenapa sepulang haji mau mendirikan pondok, ternyata uang pendirian pondok didapat dari hadiah lomba pidato bahasa arab yang diselenggarakan di kapal laut ketika perjalanan haji. Beliau mendapatkan mas batangan atas prestasi juara yang diraihnya. Pada saat itu, perjalanan haji dalam menggunakan kapal laut dengan jarak tempuh selama 3 Bulan.

Tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1961 Pondok Pesantren Annidhom Nurul Huda diresmikan oleh Bupati Brebes, Bapak Marjaban. Adapun pemberian nama Pondok Pesantren Annidhom Nurul Huda oleh Kyai Yaqub dan Kyai Hisyam sendiri. Kyai Yaqub memberi nama Annidhom dan ditambahi Kyai Hisyam Nurul Huda.

Pembangun pada saat itu terdiri dari 6 kamar untuk santri, yang berukuran 6×6, ada masjid, tempat wudlu, dapur dan MCK. Gaya bangunan pondok awalnya seperti perahu layar. Namun sekarang sedikit berubah dipintu gerbangnya saja.

Pengajian yang diajarkan beliau bersama santri setiap hari. Mulai dari pagi, siang dan sore, bahkan kadang sampai malam, kalau beliau tidak ngaji rutinan di masjid kampung tetangga. Sedangkan pengajian yang dilakukan dipondok bersama masyarakat dan santri, pada setiap hari minggu jam 8 – 10 dengan kitab yang dikaji Fathul Mu’in dan Takrib.

Disamping Kyai Hisyam mengajar di pondok, beliau juga mengajar di beberapa masjid kampung yang menjadi binaannya. Seperti Masjid Jami’ Gandasuli setiap malam kamis, Musholah di Kleben, Masjid kaligangsa kulon, malam sabtu dan juga ngaji di Masjid Tengki. Pada saat itu “becak”, merupakan transpotasi yang digunakan untuk mengisi pengajian. Kadangkala juga dijemput pakai sepeda motor.

Semangat dalam dakwahnya, beliau sangat tinggi. Terbukti sehari sebelum meninggal, beliau masih tetap saja ingin ngaji, namun karena tidak kuat lagi untuk berjalan, maka beliau terpaksa urungkan ngajinya.

Dalam berdakwah beliau terkenal dengan bahasanya yang halus dan santun. Beliau tidak menggunakan kekerasan, baik dalam kata-kata maupun perbuatan. Kata-kata yang disampaikan dalam setiap ngajinya, tidak pernah menyinggu perasaan para jamaahnya. Kalaupun ada santri yang ngaji ketiduran, beliaupun tidak pernah marah.

Kyai Hisyam merupakan salah satu kyai yang menjadi rujukan penentuan jatuhnya bulan Ramadhan maupun Syawal. Beliau merupakan ahli falak yang dimiliki Brebes.

Disamping Ahli falak, beliau juga ahli tauhid. Ada lima karya kitab ilmu tauhid yang beliau tulis dalam bahasa arab melalui tangannya. Namun belum sempat dicetak, keburu menghadap Allah SWT. Beliau meninggal pada tahun 1988, dalam usia 69 tahun.

Kyai Hisyam orangnya sedikit bicara, namun kadang kala omongan menjadi isyarat atau sebuah tanda sesuatu akan terjadi. Sehingga ketika beliau memerintahkan sesuatu, maka jamaah atau keluarga mengikutinya. Kadang disela-sela ngaji, beliau sempat bicara pada santri, nanti ada tamu yang mau datang ke pondok. Padahal saat itu belum ada HP. Menurut Ustadz Muhtadi santri beliau yang masih hidup. Beliau termasuk salah satu kyai, yang mengetahui kalau akan kedatangan tamu, bisa dibilang “Kasyaf“.

Sedangkan, ketika ada tamu yang berniat jelek (ngetes), maka biasanya ketika naik tangga, mau masuk kerumah Kyai Hisyam Jatuh. Namun Kyai Hisyam hanya senyum saja, padahal beliau tahu maksud kedatangannya. Lebih lanjut, Ustadz Muhtadi bercerita, bahwa Kyai Hisyam, ketika berangkat ke Pondok, pada saat mau menyebrangi sungai, pernah dibantu oleh buaya. Sehingga beliau dapat menyeberangi sungai dengan selamat dan tidak basah.

Dari pondok Pesantren An-Nidhom inilah, lahir lembaga-lembaga pendidikan agama Islam dan Akademi Kebidanan di Kabupaten Brebes. Seperti, MAN, MTs Negeri dan MTs Maarif NU I Brebes yg sekarang kumpul di Islamic Center Brebes. Dan juga Akademi Kebidanan (AKBID) Bhakti Husada Kabupaten Brebes. Yang sekarang berada di jalan Jatibarang Brebes. Keempat lembaga ini, awal berdirinya menempati gedung Pondok Pesantren An-Nidhom Gamprit Pasar Batang, namun setelah berkembangan pindah ke gedung milik sendiri.

Kyai Hisyam, merupakan Rois syuriah NU pertama kali di Brebes. Sebelum KH. Masruri Mugni Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah 2. Beliau juga Ketua Persatuan Haji Indonesia (PHI) yang pertama di Kabupaten Brebes dan ketua Ittihadul Mubalighin, Yaitu Ikatan Mubalig yang pada saat itu pimpinan pusatnya dipegang oleh KH. Sukron Ma’Mun.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan yang pernah beliau lakukan selama hidupnya. Amien. Al-Fatihah. (Luqman Enha)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here