Home Hikmah Hikmah Nabi

Hikmah Nabi

180
0

Tersebutlah salah satu pendeta Yahudi, Zayd bin Samnah, yang masih merupakan warga Madinah. Kegemarannya meneliti kitab-kitab yang diturunkan pada para Nabi terdahulu. Dia mendapati keterangan bahwa akan ada nabi akhir zaman yang budi pekertinya sungguh indah,

يسبق حلمه جهله ولا يزيد شدة الجهل عليه إلا حلما

Ketika disakiti orang lain, ia tidak akan melakukan tindakan bodoh tanpa kontrol emosi kemarahan dan apa pun yang dilakukan nabi pamungkas itu pasti di dalamnya terdapat hikmah.

Setelah si pendeta mengetahui hijrah Rasul ke Madinah ia ingin sekali membuktikan apakah yang dibacanya benar. Ringkas cerita, demi menguji apa yang telah dibacanya, Si Yahudi sengaja menghutangi sejumlah uang pada Nabi dengan perjanjian pengembalian hutang pada hari yang telah disepakati.

Tiga hari sebelum jatuh tempo, Si Pendeta sudah menagih. Dengan mulut berbusa-busa berbagai macam caci maki ia lontarkan hingga membuat hati panas bagi siapapun yang mendengar makiannya.

Sebagian sahabat, –diantaranya– Umar bin al Khathab meradang, hampir saja ia menghajar dan membunuhnya karena melihat orang yang tak tahu sopan santun ini. Namun dengan sigap Rasulullah melerainya. Hingga selamatlah ia dari sergapan Umar.

Dan, ia menjadi yakin bahwa Muhammad ibnu Abdillah adalah sosok yang menjadi “kabar gembira” para nabi terdahulu yang terdapat dalam kitab-kitab mereka.

Segera ia bersyahadat,

أشهد أن لا اله الا الله وأشهد أنك رسول الله

Aku bersaksi — mengetahui, mengakui, dan meyakini– bahwa tiada Tuhan yang berhak ditunduki secara hakiki melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Utusan Allah.

Ad Duror As Sulthaniyyah, Imaduddin Jamil Halim, hal. 226-227 —

(Abdul Haq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here