Home Jejak Ulama Kasyaf Imam Syafi’i

Kasyaf Imam Syafi’i

149
0

Imam Syafi’i suatu saat berkata pada salah satu muridnya yang bernama Ar Robi’ Al Murodii,

أنت فى الحديث

“Kamu -akan- selalu menggeluti Hadits Nabi.”

Dan begitulah kenyataannya. Ar Robi’ menjadi murid Imam Syafi’i yang sangat menonjol di bidang hadits.

Beliau berkata pada murid nya, Al Mazaniy,

أنت رجل المناظرة

“Kamu -akan menjadi- orang yang sangat kuat dalam berdebat –menegakkan kebenaran dan membungkam kebatilan.”

Dan begitu lah kejadian sesungguhnya. Beliau pun berkata pada murid nya yang lain, Al Buwaythi,

أنت فى الحديد

” Kamu -kelak akan mati- dengan berkalungkan besi.”

Raja Al Mutashim yang saat itu bersinggasana di Baghdad memaksa pada rakyatnya agar meyakini dan mengatakan bahwa Al Quran adalah makhluk*. Keyakinan yang bertentangan dengan Aswaja. Banyak yang karena takut disiksa dan dipenjara terpaksa mengatakannya. Namun banyak pula yang menolak. Di antara yang menolak adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena keteguhan nya dalam beliau harus menanggung 150 cambukan dalam semalam. Namun nyawa beliau terselamatkan. Hal ini karena beliau bertabarruk dengan menyelipkan satu helai rambut Rasululloh pada sarung yang digunakannya.

Lain hal nya dengan Al Buwaythi, saat itu beliau sedang berada di Mesir. Karena beliau juga tidak sudi mengatakan bahwa Al Quran adalah makhluk, maka ia harus menanggung resiko dibelenggu lehernya dari Mesir hingga Baghdad. Al Buwaythi tak bergeming dari keyakinannya hingga akhirnya pun wafat.

Begitu lah, Imam Syafi’i yang merupakan tokoh di zaman salaf hidup sebelum 300 Hijriyah, sebenarnya adalah ahlul kasyfi, Yakni orang yang diilhami -sebagian- hal-hal yang akan terjadi dengan mata batinnya.

Salah satu ulama salaf yang wajib diikuti. Karena ulama sepakat, ketika Nabi bersabda,

لا تسبوا قريشا فإن عالمها يملأ طباق الأرض علما

“Janganlah kalian mencaci Bani Quraisy! Karena akan ada seorang cendikia keturunan Quraisy yang ilmunya memenuhi seantero bumi.”

dan yang dimaksud adalah Imam Syafi’i .

——–
* Jika disebutkan kata Al Quran atau kalamullah maka -menurut para ulama- yang dimaksudkan adalah dua hal. Yang pertama adalah sifat Allah yang azali dan abadi (tak berpermulaan dan tak berpenghabisan). Allah mustahil bersifat sebaliknya yakni bisu. Dan karena sifat kalam Allah azali dan abadi maka tidak mengalami perubahan, tidak berupa huruf dan suara (huruf dan suara adalah makhluk yang mengalami perubahan).
Dan pengertian yang kedua adalah kitab yang diturunkan oleh malaikat Jibril ‘alayhissalaam atas perintah Allah. Karena bukan kitab yang disusun oleh Nabi sendiri atau Jibril, maka wajib disebut sebagai kalamulloh. Dalam pengertian ini, yang dimaksud kalamulloh atau Al Quran adalah sesuatu yang menunjukkan sifat kalam Nya (‘ibaroh), bukan sifat kalam itu sendiri.

Abdul Haq
Ketua Aswaja Centre PCNU Brebes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here