Home Berita Korelasi Ilmu dan Akhlak

Korelasi Ilmu dan Akhlak

71
0

Bumiayu, PORTAL NUBREBES

Melihat kenyataan banyak pelajar dan mahasiswa yang masih memisahkan antara ilmu dan ahlak, menjadi perhatian khusus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Provinsi Jawa Tengah. Persoalan ini menjadi menarik ketika digulirkan kepada generasi milenial yang dikemas dalam Cafe Aswaja Milienal, di Bumiayu Brebes, Jumat (1/2) kemarin.

Wakil Ketua PW LDNU Jateng Ahmad Najib Afandi (Gus Najib) menjelaskan, contoh kecil banyak kaum terpelajar seperti anggota dewan yang terhormat berakhir diujung jeruji, menjadi bukti ilmu yang tidak dibarengi ahlak. Disisi lain, banyak siswa yang belum mendapatkan pendidikan ahlak yang memadai di lembaga masing-masing. Sehingga menjadi penyebab lahirnya budaya tawuran, bergaya metal, berdandan dan potongan rambut yang ´kekinian´ dikalangan milenial.

Gus Najib, menyampaikan pentingnya ilmu bagi kaum milenial sebagai jati diri kemilenialannya. Karena Allah hanya mengangkat orang yang beriman dan berilmu saja, bukan yang kaya atau yang berkedudukan tinggi.

“Ini artinya, semua orang punya kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan masa depan yang gemilang dengan modal ilmu,” papar Gus Najib.

Kepada 700 peserta cafe aswaja milenial, najib memberi semangat agar para peserta terus bersemangat mencari ilmu, terutama ilmu agama. Karena Rasulullah menyatakan ketika Allah hendak megangkat derajat hamba-Nya, maka Allah hanya memahamkan dia ilmu agama.

Gus Najib banyak menyampaikan hadist dan maqolah ulama tentang ilmu dan keutamaannya. Seprti hadist nabi yang berbunyi: tidak ada cara menyembah yang terbaik daripada memahami agama (Islam) dan sesungguhnya satu ahli fikih bagi setan daripada meggoda seribu ahli ibadah.

Ibnu Zubaer juga berwasiat kepada anaknya: wahai anakku tintutlah ilmu jika kelak engkau jadi orang miskin, maka ilmu akan menjadi harta. Jika nanti engkau jadi orang kaya, maka ilmumu akan menghiasi hidupmu.

Gus Najib kembali mengingatkan pentingnya niat dalam mencari ilmu. Karena beradasarkan hadis nabi, barang siapa mencari ilmu bukan karena Allah, maka nerakalah tempatnya. Karena itulah Najib mengajak peserta cafe aswaja untuk meluruskan niatnya.

Ahlak adalah Garamnya ilmu.

Setelah bicara ilmu peserta kemudian diajak memahami esensi akhlak bagi orang berilmu.

Gus Najib mengatakan akhlak adalah hal utama yang harus dipenuhi sebelum ilmu. Karena itulah, Najib megingatkan agar pihak sekolah lebih memperhatikan persoalan ahlak kepada siswanya daripada urusan nilai akademik semata.

“Ahlaklah sesungguhnya yang menjadi barometer keberhasilan pendidikan,” tandasnya.

Gus Najib menjelaskan kalau Habib bin Syahid menasehati kepada putranya, agar dekat dengan fuqoha dan belajarlah ahlak mereka karena ahlak lebih menyenaagkan dari pada engkau menjadi ahli hadist. Sesungguhnya ilmu tanpa ahlak akan hambar dan sia-sia.

Pesan Ruem kepada putranya menasehati jadikanlah ilmumu sebagai tepung dan ahlakmu sebagai garam. betapa hambarnya tepung jika tidak diberi garam. Bahkan Ibnu Mubarok memgatakan, kami lebih butuh kepada sedikit ahlak daripada ilmu yang banyak. Bahkan Imam Syafii ketika ditanya soal belajar dan mecari ahlak, ia menjawab: seperti ibu yang kehilangan anak satu-satunya.

Kata Gus Najib, pernyataan dari mereka telah menjadi bukti betapa percumanya ilmu jika tidak dibarengi dengan ahlak. Dan ilmu yang dibarengi dengan ahlak adalah ciri diterimanya ilmu di akherat. Karena itulah Abu Abdullah Al Balkhi mengatakan: Ahlak badan lebih banyak daripada ahlaknya ilmu dan ahlaknya ilmu lebih besar daripada ilmu itu sendiri. (KUN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here