Home Aqidah Makna Yang Benar tentang Taqdir Mu’allaq

Makna Yang Benar tentang Taqdir Mu’allaq

106
0

Penjelasan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (W. 852 H) mengenai Qadla’ Mu’allaq dan Qadla’ Mubram

Dalam Fath al-Bari, kitab al-Adab, bab Man Busitha lahu fii ar-Rizqi li Shilat ar-Rahim beliau berkata:

مَن سرّه أن يبسَـط له في رزقه وأن يُـنسَـأ له في أثره فليصِل رحمِـَه

“Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan/ditambah umurnya, hendaklah bershilaturrahim”.

Ibn at-Tïn berkata: Secara zhahir, hadits ini bertentangan dengan ayat

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Jika ajal mereka telah datang, maka mereka tidak akan mampu menundanya ataupun mempercepatnya sesaatpun” (al-A’raaf: 34)

Ada dua penjelasan yang dapat dikemukakan dalam memadukan antara keduanya:

Pertama, Penambahan umur yang dimaksud dalam hadits di atas adalah kinayah [bukan makna sebenarnya] mengenai barakahnya usia disebabkan orang tersebut diberi taufiq dalam melaksanakan ketaatan dan mengisi serta melalui masa hidupnya dengan hal-hal yang memberikan manfaatnya padanya kelak di akhirat, sekaligus ia terjaga dari tindakan menyia-nyiakan umurnya dalam hal-hal yang tidak bermanfaat.

Hal ini sepadan dengan apa yang ada dalam satu hadits Nabi bahwa usia umat Muhammad lebih pendek dibandingkan dengan usia umat-umat terdahulu, maka sebagai gantinya Allah menganugerahkan kepada mereka Lailatul Qadr.

Kesimpulannya bahwa shilaturrahim menjadi sebab bagi seseorang memperoleh taufiq (kemampuan berbuat taat) dan menjadi lantaran terjaga dari maksiat. Dengan demikian, keharuman namanya akan tetap terjaga meski ia telah meninggal. Di antara yang ia peroleh -dengan sebab taufiq yang Allah berikan padanya- adalah ilmu yg bermanfaat sepeninggalnya, shadaqah jariyah dan keturunan yang shalih.

Kedua, penambahan usia, seperti yang disebut dalam hadits di atas, maknanya adalah haqiqi; makna sebenarnya bukan kinayah. Namun yang dimaksud penambahan usia dalam maknanya yang haqiqi itu adalah yang terkait dengan ilmu malaikat yg ditugasi oleh Allah mengurusi umur. Adapun yang dijelaskan ayat bahwa ajal tidak dapat dimajukan maupun ditunda, maksudnya adalah yang terkait dengan ilmu ALlah.

Dikatakan kapada malaikat misalkan, bahwa usia Fulan 100 tahun jika ia bershilaturrahim, dan jika memutus shilaturrahim usianya hanya 60 tahun. Sedangkan Allah benar-benar telah mengetahui pada azal [ada tanpa permulaan] bahwa Fulan itu akan bersilaturrahim ataukah tidak.

Jadi, apa yang menjadi ilmu Allah tidak berubah. Sedangkan yang mungkin menerima penambahan maupun pengurangan adalah yang ada dalam ilmu malaikat. Hal itu diisyaratkan oleh firman ALlah:

يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan pada-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)” (ar-Ra’d: 39)

Penetapan dan penghapusan terkait dengan apa yang ada dalam ilmu malaikat. Inilah yg disebut Qadla’ Mu’allaq. Dan apa yang ada dalam Umm al-Kitaab, hal itulah yang ada dalam ilmu Allah. Tidak ada penghapusan sama sekali. Inilah yang disebut Qadla’ Mubram. (Abdul Haq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here