Home Politik Memaknai Khittah NU berkait Pilpres 2019

Memaknai Khittah NU berkait Pilpres 2019

65
0

“Mboten usah digatosaken , priantun-priantun agung ingkang ngritik utawi nyegah kito mendukung paslon! Abaikan saja! mendukung, memilih hak kita. Menerangkan kepada warga NU mana paslon yang sholeh dan mana yang tidak sholeh, mana yang maslahat bagi NU dan mana yang madlorrot bagi NU dan bangsa, itu juga kewajiban kita sebagai pengurus. Lha mereka yang ngritik itu pendukung paslon lain koq, bahkan jadi timsesnya.”

“Kita juga tidak menggunakan legalitas organisasi koq. memangnya membiarkan wahabi mempecundangi itu khittoh? Memangnya membiarkan khottot berkoar-koar itu khittoh?”

“Izinkan kami yang tidak tega NU dikalahkan oleh PKS, PAN, MTA, FPI, HTI dll, terus berjuang sekuat tenaga agar NU tidak sampai kalah. Adakah kaidah, kalau mendukung ini melanggar khittah tapi mendukung Prabowo-Sandi yang diusung PKS dan PAN malah merasa paling khittah??”

Begitulah seruan KH. Marzuki Mustamar yang tersebar dan kita baca di wag-wag dalam menyikapi elit Nahdiyin yang kebetulan ada dibarisan kubu Prabowo-Sandiago. Seruan ini juga merupakan bentuk sanggahan kepada mereka yang telah menuduh beberapa pengurus NU menciderai makna khittah.

Ada beberapa point yang harus difahami dalam seruan itu terutama berkaitan dengan sikap kaum Nahdiyyin khususnya yang ada di Struktural.

Pertama, Khittah adalah garis perjuangan dan kepribadian NU yang meliputi keagamaan, kemasyarakatan, baik personal mapun institusional. Garis ini dimaknai oleh pihak-pihak yang dari semula selalu berseberangan dengan NU Struktural dengan tidak dibolehnya Pengurus NU untuk tidak terlibat berpolitik praktis dan menjadi alasan pembenaran sikap mereka berkaitan dengan pilpres 2019. Padahal, selama tidak berhimpit dengan sejumlah ajaran Aswaja, NU adalah organisasi yang bisa dibilang “inkonsisten” dalam sikap-sikap politiknya.

Kedua, Narasi Khittah yang dibangun oleh pihak-pihak internal NU yang tidak sehaluan dengan Strukturalnya, seharusnya harus diimbangi dengan sikap tegas mereka terhadap keberadaan HTI dan sejumlah kelompok yang selalu menyerang NU. Karena kelompok-kelompok inilah yang selama ini merongrong stabilitas bukan hanya NU tapi juga bangsa. Jika Khittah NU difahami dengan hanya mengurusi agama, justru saat inilah NU harus bisa tampil lebih, menghadang anasir-anasir jahat mereka yang kama huwa ma’lum ada dibarisan siapa dan paslon nomer berapa.

Sebenarnya, makna kaitan sikap berpolitik NU dan khittah NU sendiri sudah sangat jelas, yaitu keterlibatan dalam kancah politik harus dilihat sebagai keterlibatan NU yang merupakan bagian strategis dari bangsa, dimana gerak politiknya adalah wawasan kebangsaan yang bukan saja menuju integrasi, juga mengikis anasir yang mengancam disintegrasi bangsa.

Sikap inilah yang merupakan sikap politik yang berhimpit dengan ajaran Aswaja yakni menolak ideologi khilafah tersebut. Bagaimana bisa, medan percaturan politik diserahkan begitu saja kepada sang “musuh”?, Jelas tidak, karenanya harus “dilawan di arena pertarungan”. (Beni Subhan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here