Home Berita Mushola Ar-Rahman Nurul Iman Randusanga Kulon Gelar Harlah NU Ke-96

Mushola Ar-Rahman Nurul Iman Randusanga Kulon Gelar Harlah NU Ke-96

28
0

Randusanga, Portal NUBrebes

Ceramah KH. Noval Fuad Hasyim dari Pondok Pesantren Buntet Cirebon, pada harlah NU ke 96 H. Dan acara rutinan Rijalul Ansor PAC Brebes bertempat di Desa Randusanga Kulon Brebes.

Pada awal cermah, kang Noval panggilan akrab kepada putra kyai, yang biasa saya sapa di pondok. Memulai ngaji dengan kalimat menyapa para jamaah yang hadir di pada pengajian yang bertempat di Mushola Ar-Rahman Nurul Iman Randusanga Kulon Brebes. Dengan sapaan khas “Saya sudah biasa ke Randusanga, tapi mancing, namun kali ini beda, saya ngajak cerita Bapak Ibu semua,”

Lebih jauh, beliau mengatakan “Kalau memanggil saya dengan tujuan memaki orang itu salah, apalagi disuruh-suruh nunjuk-nunjuk kepada sesuatu, itu salah besar.” Beliaupun menyampaikan bahwa “Saya datang tidak untuk ngaji, karena saya bukan Kyai ataupun Ulama, melainkan hanya sebutir debu yang menempel pada sandal bakyak kaki para Kyai.”

Beliau juga mengingatkan kembali bahwa “Saya disini hanya ngobrol-ngobrol saja, karena saya orang islam, yang diajari Nabi Muhammad SAW. untuk mengajarkan Akhlak. Sebagaimana juga Nabi diturunkan di bumi untuk menyempurnakan Akhlak manusia.”

Selanjutnya kang Noval melemparkan pertanyaan kepada jamaah. Kenapa diturunkan Nabi bukan menyempurnakan ilmu, ataupun harta ?, sebab pada saat itu, Makkah secara keilmuan sudah tinggi, hukum bagus, tetapi akhlak kurang bagus. Perdagangan cukup maju, tatanan pemerintahan baik, tapi akhlak tidak ada, kehidupan bermasyarakat saat itu kacau balau.

contohnya saja, jaman jahilyah sebutan jaman itu, karena wanita haid ditaruh di padang pasir. Wanita ataupun para istri yang melahirkan anak perempuan langsung dikubur hidup-hidup.

Bahwa sanya Rasulullah diutus di Arab untuk menyempurnakan akhlak. Karena Akhlak kedudukannya lebih tinggi dari ilmu. Akhlak bukan masalah anak dengan ibu saja. Akhlak juga bicara bagaimana tata cara atau mengajarkan sopan santun pada pimpinan. Karena yang terjadi di Indonesia telah hilang akhlak kebangsaan. Akhlak disini juga merupakan adab atau tata krama menata kehidupan yang harmoni di tengah-tengah masyarakat.

Salah satu tugas manusia adalah menciptakan harmoni. Karena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Sehingga jangan sampai ada mauidhoh hasanah isinya cuma mencaci maki.

Ingat ketika jaman David and Goliath. David (Nabi Dawud) seseorang yang bertubuh kecil dari seorang anak petani, tak mungkin mengalahkan Goliath yang besar dan tinggi. Tapi ternyata David mampu mengalahkannya.

Kata seorang rahib ulama yahudi, yang mencaci maki yahudi ya orang yahudi itu sendiri. Mungkin sama juga dengan orang Indonesia, yang suka membuat keributan di Indonesia, yaah, orang Indonesia sendiri. Kalau saja dikaitkan dengan masyarakat sekarang, sepertinya hampir sama. Kalau seseorang yang sudah akhlaknya jelek, maka didalam hatinya dipastikaan ada ketidaksukaan dan mengajak berkelahi satu sama lainnya. Begitu juga kalau ulama sudah dicacimaki, terus mau ikut siapa?. Menjaga keharmonisan tujuan kita bersama. Jangan ribut dengan tetangga apalagi ikut ribut masalah Negara.

Banser dapat dikatakan, sebagai organisasi yang ahli dzikir. Tapi harus ingat, bahwa dzikir kembalinya kepada Allah, jangan hanya meminta ingin memiliki anti bacok dan dapat terbang tapi lupa turun, Imbuhnya, yang membuat para pengungjung pengajian tersenyum dan ada yang tertawa.

Manusia diciptakan Allah punya hati dan akal. Keseimbangan manusia menjaga kenyamanan dan kedamaian karena Islam itu sendiri damai. Orang-orang yang kehilangan kedamaian akan menumbuhkan radikal dan dapat menggeser sisi insaniyah.

Lebih jelas lagi, kang Noval dalam pembicaraanya juga mengingatkan kepada semua yang hadir dalam pengajian tersebut. “Kalau kita bicara jangan sampai isi pembicaraan hanya mencaci maki, membohongi, propokasi dan fitnah. Agama tidak dijadikan ukurane politik, apalagi Presiden. Belajarlah agama dengan harus ada gurunya, kalau tidak ada dikhawatirkan gurunya syetan. Maka Ikutilah dengan para ulama atau kyai, yang memiliki guru hingga nyambung sampai Rasulullah, hal itu supaya kita tidak kesasar dalam beragama.

Perlu diketahui, ulama itu siapa. Ulama itu sebutan dari Allah. Manusia dikasih tahu hanya ciri-cirinya, yaitu hamba yang paling takut kepada Allah SWT. Itulah ulama. Oleh karena itu, jangan mudah menaruh lebel pada setiap manusia itu seorang ulama. Saya kata kang Noval, bukan Kyai, melainkan hanya debu yang menempel pada sandal bakyak ulama.

Beliau juga mengingatkan kalau ingin mencari guru sebagai pegangan dalam menjalankan agama islam, maka harus memperhatikan kriteria sebagai berikut : Pertama lihat Ilmu yang dimiliki, kedua amal atau ubudiyah yang dijalankan dalam keseharian, ketiga akhlak dalam hubungan dengan Tuhan dan masyarakat. Ketiga hal ini tidak bisa dipisahkan, sudah menjadi satu kesatuan konprehensip integral.

Kalau hanya melihat keilmuan saja, maka lmu iblis itu mumpuni tidak bodoh, ubudiyah iblis ahli ibadah dan tidak diragukan lagi, ketika Iblis ruku dan sujud patuh kepada Allah SWT selama 50 tahun. Namun yang tidak dimiliki Iblis adalah akhlak.

Berilmu tidak punya akhlak, ngaji cuma ditulisan. Hal semacam ini dapat disamakan dengan seseorang yang membaca komik, tidak membekas dan tidak ada nilai-nilai filosofi yang diajarkan, atau akan hilang misi kebaikan dialur cerita yang disampaikan.

Kenapa kita harus NU, pasca Nabi meninggal kondisi islam kacau, muncul aliran-aliran baru dan Nabi palsu. Sehingga tugas Abu Bakar sebagai pemimpin umat islam saat itu, memerangi kaum riddah (murtad), dan Nabi palsu Musalamah Al-kadzab.

Peristiwa pembunuhan Sayidina Ali Karamallahu Wajha oleh Abdurahman Bin Muljam dengan membunuh Ali dengan alasan lahukma ilallah. Ayat ini benar tapi digunakan pada hal yang salah. Al-Qur’an telah dijadikan kepentingan, pembenar untuk egonya sendiri.

Salah satu sifat manusia adalah mudah terpropokasi, apalagi orang awam, mereka mudah tergiring pada opini-opini kedaerahan, suku, ras dan agama. Namun isu yang cukup membuat mudah mempropokasi masyarakat biasanya menggunakan isu agama.

NU hadir di Indonesia yang didirikan oleh KH. Hasyim As’ari, dan secara sanad yang dimiliki oleh para gurunya sampai kepada Rasulullah. Hal ini dapat diartikan jika menyesatkan NU berarti menyesatkan para pendirinya. Oleh karena itu, warga NU selayakanya bangga menjadi pengikut NU dengan sanad yang dimiliki para guru-gurunya sampai Rasulullah.

NU dalam kontek kebangsaan berdiri tegak untuk mempertahankan NKRI dan mutlak tidak bisa ditawar-tawar, kerena NU adalah pemilik saham Negara Indonesia. Maka bersatulah untuk NKRI, Jangan diberi kesempatan siapapun untuk menghancurkan. Wallahualam bissowab. (Lukman Nur Hakim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here