Home Tashawwuf Ruh yang Kembali ke Pemiliknya dengan Baik

Ruh yang Kembali ke Pemiliknya dengan Baik

48
0

 

 

Ruh milik Allah, dan akan kembali pada Allah. Apabila ruh mau diambil pemilik-Nya (datang sakaratul maut), kemudian saat itu manusia tersebut dalam kondisi lemah imannya, maka hatinya dan seluruh badanya merasa sakit, karena ruh akan berpisah dengan tubuh dan dunia. Namun ketika keimanan kuat kepada Allah (pemilik ruh), maka ruh akan bahagia, senang karena akan kembali pada pemilik-Nya dan akan ditempatkan pada tempat yang mulia.

Manusia mati atau meninggalkan dunia dapat dipahami bahwa ruhnya yang dulu dimasukkan dalam jasad oleh Allah ketika berada di dalam kandungan ibunya, diambil lagi oleh yang punya atau pemilik ruh tersebut, Allah SWT.

Apabila ruh tidak senang akan bertemu Allah, maka Allah sebagai pemilik ruh tersebut juga akan sama dengan kondisi ruh saat itu. Maka buatlah, ruh kita senang akan kembali pada pemiliknya, dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Sehingga ruh kita termasuk kategori taat kepada pemilik-Nya.

Sebagaimana, perilaku manusia di dunia ketika akan bertemu dengan orang yang dicintai, tentu pertemuan tersebut akan dibuat suasana yang menyenangkan dan penuh kebahagiaan. Dan dipastikan ketika bertemu dengan orang yang dicintai akan bahagia juga.

Melihat diri kita dalam kondisi penuh keceriaan dan kebahagiaan. Maka yang melihatnya atau yang menantinya akan bahagia pula.

Sebaliknya, apabila kita akan bertemu dengan pemilik (majikan) , namun kita sendiri tidak bahagia, maka pemilik kita pun akan menerima kita tidak bahagia pula. Hal ini bisa terjadi karena kondisi kita sendiri yang tidak patuh pada pemilik-Nya.

Sekiranya perlu diingat kembali, ketika kita dikasih ruh oleh Allah, dan jasad kita keluar perut ibu kita dan masuk di alam dunia. Kedua orang tua kita atau paramedis, akan memeriksa kondisi fisik kita. Mulai dari panca indra, tangan, kaki, kepala semua diperiksa satu persatu. Melihat kondisinya normal atau tidak, ada yang kurang atau tidak semua diperiksa dengan teliti.

Kita yang menerima titipan ruh dari Allah saja, ketika masuk di dunia, semua dicek tentang kondisinya. Sepertinya tidak ada satupun yang boleh terlewatkan.

Begitu juga ketika kita akan kembali kepada pemilik-Nya, Allah SWT akan menghitung dan mengecek panca indra kita untuk apa?. beribadakah atau bermaksiat. Tangan dan kaki kita digunakanan untuk apa dan lain sebagainya.

Yang jelas, semua dicek saat kondisi ruh ketika ditiupkan ke badan dengan ketika keluar dari badan. Apakah lebih baik atau jelek. Baik penuh keimanan dan kepatuhan terhadap Sang Pencipta atau pembangkangan. Semua akan dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri.

Semua yang dilakukan akan mendapat balasannya. Jika ruh kita penuh ibadah, maka akan ditempatkan yang mulia. Sebaliknya, ruh banyak berbuat maksiat kepada pemilik-Nya, maka akan ditempatkan yang tidak baik. Maka rawatlah ruh dengan terus beribadah kepada Allah SWT agar dapat kembali kepada Allah dengan kondisi baik (khusnul khotimah), Amin Ya Rabbal Alamin.

Perlu diketahui, untuk mengingatkan kembali lagi. Bahwa perilaku lupa atau tidak patuh manusia di dunia pada pemilik-Nya. Salah satunya ketika manusia diberi amanat untuk mengurus kepemilikan harta dan anak.

Seperti ketika manusia sudah lebih mencintai anak yang berlebihan, maka cinta kepada harta akan terkalahkan, permintaan anak akan dipenuhi semua. Semua kesalahan atau kenakalannya akan dianggap hal wajar.

Namun apabila kecintaan dunia yang berlebihan, maka anak akan dinomorduakan. Anak sering ditinggal dan tidak pernah di perhatikan pendidikan, ibadah dan masa depannya.

Kalau cinta dunia (harta) berlebihan, maka anak akan kalah. Kalau cinta anak berlebihan, dunia akan kalah.

Padahal pemilik ruh sangat cinta kepada kita, namun sering kita lupakan. Minimnya kecintaan kepada Allah, akan menjadikan lupa kepada Allah saat ruh akan kembali pada-Nya. Hal itu pula dapat disebut Suul khotimah.

Mengingat pemilik ruh, dengan selalu menyebut-Nya, mengenal asmaul khusna-Nya, sehingga sampai melekat nama Allah dalam hati dan perbuatan, maka Insya Allah akan khusnul khotimah. Amin. Wallahu ‘alam bishowab. (Lukman Nur Hakim)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here