Home Sejarah Cikal Bakal NU Jatibarang

Cikal Bakal NU Jatibarang

181
0

Keterbelakangan secara mental maupun ekonomi akibat penjahahan dan kungkungan tradisi telah menggugah kesadaran kaum kyai untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan organisasi yang muncul tahun 1926 tersebut dikenal dengan “kebangkitan Ulama” atau “Nahdlatul Ulama”. Semangat kebangkitan memang terus menerus menyebar kemana-mana setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalan dengan bangsa lain.

Pada tahun 1933, paska kongres NU di Borneo (Kalimantan) NU Jatibarang secara resmi didirikan. Pengurus Rais Syuriah di pegang oleh KH. Abdur Rasul, sedangkan jajaran foorsiter (Tanfidziyah) diketuai oleh HR. Abdul khalim Wongsodimejdo, Husen Bajri, Nawawi, dan lain-lain. Keberadaan NU Jatibarang saat itu sebagai kring atau wakil cabang dari Pengurus Cabang Brebes yang waktu itu berpusat di Ketanggungan.

Satu tahun sebelum NU Jatibarang secara resmi dibentuk yakni tahun 1932, di Jatibarang tepatnya Jatibarang Kidul telah dibuka sebuah madrasah rintisan yang bertempat di rumah tinggal KH. Abdur Rasul, keberadaan madrasah rintisan ini mendapat restu dari KH. Hasyim Asyari setelah sebelumnya KH. Wahab Sya’roni dan HR. Abdul Chalim Wongsodimedjo sowan ke Tebuireng Jombang.

Bersamaan dengan kegiatan NU dan semakin bertambahnya jumlah siswa madrasah, kemudian dimulailah usaha mendirikan gedung madrasah yang disponsori oleh sendiri yakni KH. Abdur Rasul dan HR. Abdul Chalim Wongsodimejo. Dalam pada itu, Ibu Hj. Rahmah (ibu KH. Abdur Rasul) menyatakan ikrar wakaf sebidang tanah yang terletak di sebelah utara jalan desa Jatibarang Kidul yang sekarang menjadi MI Asy-Syafiiyyah I.

Pada awalnya perintisan pembangunan gedung madrasah menghadapi banyak kendala, penggalangan dana yang sedianya melibatkan seluruh warga masyarakat sekitar seringkali terbentur dengan adanya pembangunan dan pemugaran langgar yang sedang berjalan. beberapa reaksi “negatif” dari tokoh-tokoh Sarikat Islam sendiri dan dewan asatidz Madrasah Mabadiul Huda yang sudah lebih dahulu berdiri di Jatibarang Lor diindikasikan ikut menjadi penghambat jalannya penggalangan dana.

Melihat kondisi seperti ini, akhirnya KH. Abdur Rasul dan HR. Abdul Chalim Wongsodimedjo mengambil inisiatif untuk sowan kembali kepada Rois Akbar Pengurus Besar (Ho of Bestuer) NU Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Maka berangkatlah kedua tokoh tersebut pergi ke Tebuireng dalam rangka sowan dan meminta barokah doa ke Hadrastusy Syaikh yang akhirnya memberikan restu, bahkan Hadratusy Syaikh akhirnya hadir di Jatibarang dalam rangka ikut meresmikan peletakkan batu pertama dimulainya pembangunan Madrasah tersebut.

Kira-kira antara tahun 1937-1934, dengan dukungan KH. Wahab Sya’roni beserta murid-muridnya dan kontribusi material dari KH. Abdur Rasul dan HR. Abdul Chalim Wongsodimedjo dan sumbangan dana swadaya dari masyarakat, selesailah pembangunan gedung madrasah yang akhirnya diberi nama dengan “ As-Salafiyyah Asy-Syafiiyyah”.

Keberadaan madrasah di Jatibarang kidul ini, akhirnya menjadi satu-satunya tempat pendidikan Islam klasikal Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdiyyah yang ada di Jatibarang. disamping nama yang sama, jenjang dan kurikulum yang dipakai pun sama persis dengan Madrasah As-Salafiyyah Asy-Syafiiyyah di Tebuireng Jombang.

Pada proses perjalannnya, madrasah ini lebih populer dengan sebutan “Madrasah Nahdloh”. Penggunaan nama yang singkat lebih sering dipakai mengingat nama As-Salafiyah Asy-Syafiiyyah dirasa terlalu panjang bagi sebagian lisan masyarakat yang lebih leluasa dengan nama pendek. disamping sangat beralasan sekali, jika dikaitkan bahwa pendirian madrasah ini dibidani oleh tokoh-tokoh NU Jatibarang dan diresmikan oleh Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar organisasi besar Nahdlatul Ulama.

Jika menelusur waktu berdirinya NU Jatibarang, tahun 1933 adalah saat-saat dimana KH. Wahab Hasbullah mulai merasakan ketidakpuasannya dengan perkumpulan Sarikat Islam (SI) yang dianggap terlalu mengutamakan kegiatan politik. meski beliau bagian dari orang-orang penting di jajaran pengurus Sarikat Islam. Beliau lebih menginginkan tumbuhnya semangat nasionalisme lewat kegiatan pendidikan. Dan akhirnya berdirilah sebuah perguruan yang diberi nama “Nahdlatul Wathan” dengan susunan pengurus KH. Abdul Kahar sebagai direktur, KH. Wahab Hasbullah sendiri bertindak sebagai pimpinan dewan guru (keulamaan) dan KH. Mas Mansur sebagai Kepala sekolah dibantu dengan KH. Ridwan Abdullah yang kelak menciptakan dan mendesign logo NU.

Sejak itu “Nahdlatul Wathan” menjadi pusat penggemblengan banyak pemuda. Mereka didik untuk menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air. Setiap hendak dimulai kegiatan belajar, para murid terlebih dahulu menyayikan lagu perjuangan dalama bahasa arab yang telah digubah oleh Kyai Wahab Hasbullah dalam bentuk Syair seperti berikut.

Wahai bangsaku,wahai bangsaku

cinta tanah air adalah bagian dari iman, cintailah tanah air ini wahai bangsaku

Jangan kalian menjadi orang terjajah, sungguh kesempurnaan itu harus dibuktikan dengan perbuatan. Bukanlah kesempurnaan itu hanya berupa ucapan, jangan hanya pandai bicara.

Dunia ini bukan tempat menetap, tetapi hanya tempat berlabuh. Berbuatlah sesuai dengan perintahNya. Kalian tidak tahu orang yang memutarbalikan dan kalian tidak mengerti apa yang berubah di mana akhir perjalanan dan bagaimanapun akhir kejadian.

Adakah mereka memberi minum juga pada ternakmu. Atau mereka membebaskan kamu dari beban, atau malah membiarkan tertimbun beban.

Wahai bangsaku yang berpikir jernih dan halus perasaan kobarkan semangat dan jangan jadi pembosan.

Seiring dengan gegap gempitanya seruan nasionalime melalui pendidikan dari KH. Wahab Hasbullah, NU Jatibarang melalui pendidikan Madrasah Nahdlohnya mengalami perkembangan yang pesat, ini dibuktikan dengan semakin tingginya minat masyarakat Kecamatan Jatibarang memasukkan anaknya ke Madrasah Nahdloh. Peran NU Jatibarang dalam pendidikan ini mampu menghasilkan murid-murid yang kelak tidak hanya bermanfaat di masyarakatnya akan tetapi berguna di kancah juang bela tanah air.

Peran NU ditengah masyarakat Jatibarang bertambah maju dengan semakin banyak orang yang berjuang atau menginfakkan atau mewakafkan hartanya demi kemajuan NU. sehingga wajar saja, NU Jatibarang mempunyai beberapa aset yang dapat digunakan untuk kesejahteraan NU.

Namun pada perjalanannya aset-aset tersebut sangat disayangkan sudah berpindah penggunaanya bukan lagi untuk kesejahteraan NU dan bahkan raib. Konon tanah yang diatasnya berdiri gedung bioskop Candra Buana adalah salah satu aset yang raib. Hal tersebut terjadi karena tidak adanya inventaris aset NU dengan baik.

Memasuki masa revolusi kemerde-kaan yang penuh gejolak, Madrasah Nahdloh pun tak luput dari pasang surut dan beragam peristiwa. Besarnya tekanan revolusi, membuat madrasah ini vakum bahkan bisa disebut nyaris tutup di masa itu. Perkembangan lembaga pendidikan sempat terhenti, terutama ketika panggilan jihad fi sabi’lillah, menggerakkan seluruh dewan asatidz bersama masyarakat menyatukan langkah masuk dibarisan Hizbullah, maju di kancah juang bela tanah air. Tak sedikit, pejuang yang gugur sebagai syahid, termasuk diantaranya adalah salah putra dari KH. Abdur Rasul sendiri. Selama beberapa tahun berikutnya, laju perkembangan Madrasah Nahdloh pun terhenti.

Pasca kemerdekaan, ketika stabilitas dan keamanan nasional mulai pulih, di gedung madrasah Nahdloh, seorang Ustadz bernama Abbas Yasin menggunakan kesempatan ini dengan membuka kegiatan belajar mengajar yang menginduk pada Madrasah Ichsaniyah Tegal . Peristiwa ini terjadi di tahun 1948 M., pada saat itu, Ustadz Abbas Yasin dibantu oleh beberapa ustadz seperti Ustadz Jamil Bachrun, Abdul Kafi Muhammad, Ustadz Subuki Mukhtar dan lain-lainya.

Dalam rangka memajukan madrasah tersebut, pada tahun 1951 dibentuklah Pandu Islam yang terdiri dari murid-murid madrasah. Pandu Islam ini kelak menjadi embrio gerakan Pandu kepemudaan dan Drum band Ansor di Jatibarang yang selama kurun waktu tertentu mengalami masa-masa kejayaan.

Di tahun-tahun berikutnya, perkembangan madrasah inipun semakin merosot dengan kurangnya dukungan masyarakat dan banyaknya asatidz yang meninggalkan lapangan pendidikan. Kendatipun madrasah tersebut tadinya sudah berjalan baik dengan menggunakan kurikulum SRI (Sekolah Rakjat Islam) yang tidak hanya memberikan pelajaran Agama, tetapi juga pelajaran umum. (Benhan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here