Home Sejarah Mengenang Kyai Ma’mun Luwungragi

Mengenang Kyai Ma’mun Luwungragi

190
0

Ada berbagai bermacam dakwah yang dilakukan para kyai. Ada yang model mendirikan pesantren, sehingga para santri (pelajar) berduyun-duyun datang ke pesantren untuk belajar agama, ada juga para kyai yang mendatangi tempat pengajian. Baik yang rutinan ataupun pada peringatan hari besar Islam.

Brebes merupakan kota yang memiliki pesantren cukup banyak. Generasi para Kyaipun sebagai pengasuh pondok memiliki pengkaderan yang terus menerus, seolah-seolah tidak bisa berhenti. Sehingga sosok Kyai memiliki peran yang sangat penting dan terus berada dihati masyarakat.

Mbah kyai Ma’mun sebagai pendiri Pondok Assalafiyah luwungragi Brebes, Sejak tahun 1940. Merupakan sosok kyai yang memiliki keunikan tersendiri dalam berdakwah.

Pondok yang pernah ditinggalkan beberapa tahun, karena penjajah. Namun tepatnya pada tahun 1968 beliau kembali lagi. Setelah ditinggalkan pada tahun 1942 menetap di Cirebon.

Kedatangan beliau kembali ke luwungragi, langsung memperbaiki pondok yang bertahun-tahun ditinggalkannya.

Jiwa seorang pendakwah tidak akan pernah luntur oleh apapun. Sosok kyai akan terus berdakwah dan berdakwah.

Ada beberapa kekhasan dakwah yang dilakukan Kyai Ma’mun, ditengah-tengah masyarakat Luwungragi Brebes, dalam mengajarkan ilmu agama Islam kepada para santrinya.

Beliau merupakan sosok kyai yang suka bersilaturahmi dengan masyarakat. Terutama warga yang sedang membangun rumah. Beliau mengajarkan bagaimana membuat kolam agar airnya bisa digunakan untuk berwudhu.

Kyai Ma’mun termasuk salah satu kyai yang tidak mau mengganggu orang yang sedang bersenang-senang. Terbukti ketika beliau sedang berjalan, namun ditemuinya dirumah salah satu warga ada yang sedang njoged (menari jaipong), beliau lebih baik mencari jalan lain, dari pada mengganggu kebahagiaan seseorang.

Dalam memberikan upah pada kuli (buruh), beliau selalu tepat waktu dan tidak menunda-nunda pembayarannya. Beliau berusaha membayar para kulinya, sebelum keringatnya kering.

Kyai Ma’mun dalam metode dakwahnya lebih mengedepankan dakwah bil hal (perbuatan), dari pada bil lisan (ucapan). Dakwahnya beliau sangat menyentuh sekali terhadap orang-orang yang pernah ditemuinya. Terhadap semua orang beliau sangat menghormati. Bahkan terhadap para preman atau jawara yang ada di kampungnya saat itu, beliau berperilaku sangat sopan dan tidak berlaku kasar.

Sehingga preman, maling dan para penjahat, sangat segan terhadap beliau. Bukan karena kealiman beliau saja, tetapi karena dalam kehidupan keseharian beliau tidak pernah marah dan sangat sopan kepada semua orang yang ditemuinya.

Salah satu yang beliau lakukan terhadap santrinya. Beliaupun tidak pernah meminta uang kepada para santrinya untuk pembuatan pondok. Bahkan beliau sendiri yang kadang kala membiayai makan untuk para santrinya.

Kalau dapat diibaratkan, kehadiran kyai Ma’mun, sebagai sosok pembawa “obor” penerang kegelapan, “air” penyejuk dalam kehausan, dan pembawa ilmu yang dapat dinikmati untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan santri. Kepiawaian Kelembutan dalam berkomunikasi dan sopan santun dalam berkepribadian, menjadikan kehadiranya sangat dihormati.

Kalau difahami secara mendalam, metode dakwa K Ma’mun ini agak susah ditiru. Bukan karena tidak menguasai teori atau dalil. Namun diperlukan pendekatan emosional yang luar biasa.

Dakwah Kyai Makmun dalam mengajak orang untuk berbuat baik dan mentaati berintah Allah, tidak menggunakan kekerasan, dan lebih pada pendekatan hati.

Sehingga pada tahun 1986 masyarakat Luwungragi, dan Brebes lebih khusus para santrinya. Meresa kehilangan sosok yang menjadi tauladan dan penuntut beragama.

Innalillahi wainna ilaihi rojiun, selamat jalan Pak Kyai. semoga ketaulandan yang engkau ajarkan dapat ditiru oleh para santri, dan masyarakat Brebes.

Dakwah santun yang engkau ajarkan, seolah-seolah engkau selalu hadir dalam mengingatkan para santrimu yang terkadang lupa melalukan kesalahan.

Kyai Ma’mun, engkau merupakan ulama besar sang pembawa lentera dan entah dengan apa dapat membalas jasa-jasa beliau yang sangat berarti.

Hanyalah Do’a yang dapatku persembahkan untuk mengiringi kepergian beliau. Semoga Allah SWT membalas atas segala perjuangan dan kebaikan yang beliau lakukan. Amin ya robbal ‘Alamin. (Lukman Nur Hakim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here