Home Aqidah Sisi Kemoderatan Al Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari

Sisi Kemoderatan Al Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari

223
0

Tokoh terkemuka Ahlussunnah, Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari –semoga Allah meridloi nya– terkenal dengan sikap nya yang sangat moderat. Hal itu tercermin dalam penjelasan diantaranya berikut ini.

Ketika di satu pihak kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyyah menafikan sifat-sifat Allah, dan di pihak lain kaum Hasyawiyyah dan Mujassimah menyifati Allah dengan sifat-sifat yang serupa dengan sifat makhluk-Nya, maka Imam Asy’ari menempuh sikap moderat dengan mengatakan:

“Allah mempunyai sifat-sifat yang tidak serupa dengan sifat-sifat makhluk-Nya.”

Ketika Jahm bin Shafwan (pendiri kaum Jahmiyyah) menyatakan bahwa seorang hamba tidak dapat mencipta sesuatu dan tidak memiliki kehendak sama sekali, bagai kapas yang ditiup angin kesana kemari. Dan di sisi lain, Mu’tazilah menetapkan bahwa seorang hamba dapat ‘menciptakan’ perbuatannya sekaligus memiliki kehendak untuk melakukan sesuatu. Imam Asy’ari mengambil jalan moderat dengan mengatakan:

“Seorang hamba tidak dapat mencipta sesuatu, tapi ia memiliki kehendak untuk melakukan sesuatu (kasb/ikhtiyar¹).”

Ketika kaum Hasyawiyyah Musyabbihah bersikukuh dengan pendapat bahwa Alloh dapat dilihat sebagaimana dilihatnya makhluk, berupa benda dan disifati dengan sifat-sifat benda. Sedangkan kaum Mu’tazilah, Jahmiyyah dan Najjariyyah ngotot dengan pemikiran bahwa Allah sama sekali tidak akan dapat dilihat. Maka Imam Asy’ari menempuh jalan tengah dengan mengatakan:

“Kelak di surga, Allah akan dilihat² tanpa menyerupai apapun dan siapapun, tanpa bentuk, tanpa tempat, tanpa arah dan tanpa disifati dengan sifat-sifat makhluk.”

“Allah ada tanpa tempat dan arah. Dia adalah Pencipta segenap tempat dan semua arah, maka Ia tidak membutuhkan tempat dan arah,”

Demikian ajaran yang dibawa Imam Asy’ari sebagai sikap moderat yang beliau tempuh ketika merebak dua ajaran menyimpang. Yakni, ajaran “Allah berada di semua tempat tanpa arah dan tanpa menempati sesuatu” yang dipropagandakan golongan Najjariyyah. Dan ajaran “Allah menempati ‘arsy dan duduk di atasnya” yang dihembuskan oleh kelompok Hasyawiyyah dan Mujassimah.

Kelompok Murji’ah berpendapat bahwa seseorang yang sudah menjadi mukmin, maka selamanya ia tetap mukmin dan tidak berpengaruh padanya riddah, kufur ataupun dosa besar. Sedangkan Mu’tazilah secara ekstrim menyatakan bahwa seorang pelaku dosa besar, meski ia mukmin dan melakukan ketaatan 100 tahun sekalipun, maka di akhirat ia akan dimasukkan ke dalam neraka dan tidak akan keluar darinya selamanya. Imam Asy’ari bersikap moderat dengan mengatakan:

“Seorang mukmin pelaku dosa besar hukumnya ditentukan oleh apa yang menjadi kehendak Allah. Jika yang menjadi Kehendak Nya dosa mukmin itu Dia ampuni dan langsung dimasukkan ke dalam surga, maka itulah yang akan terjadi. Dan jika Ia berkehendak, mukmin itu disiksa terlebih dahulu di neraka atas dosa besar yang dilakukan, lalu pasti akan dimasukkan ke dalam surga Nya.”

¹ ikhtiyar adalah توجيه العبد قصده وإرادته نحو العمل فيخلقه الله عند ذلك; pengerahan hamba pada apa yang ia kehendaki terhadap satu pekerjaan dan pada saat itu Alloh menciptakan (menciptakan; melahirkan nya dari tidak ada menjadi ada).
² Allah memberikan kekuatan orang mukmin untuk dapat melihat Nya. Yang berubah adalah makhluk Nya, semula tidak dapat melihat lalu hijab / penghalang maknawi yang ada pada mereka, Allah hilangkan. Bukan Allah yang berubah.

Abdul Haq
Ketua Aswaja Center PCNU Brebes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here