Home Syariah Shaum dan Shiyam

Shaum dan Shiyam

71
0

Shaum (صَوْم) dan Shiyam (صِيَام) adalah dua tembung untuk mendeskripsikan kegiatan STOP. Secara terminologi syariat keduanya memiliki arti yang lebih mu’ayyan (definit), seperti stop ujaran kebencian, stop cacian, stop minum stop makan, stop syahwat, dan stop dari segala perbuatan amoral.

Abu hilal Al-Askari dalam kitab Mujam Al-Faruq al-Lughawiyah lebih memberikan arti kata صِيَام sebagai menahan dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa dengan disertai adanya NIAT si pelaku. Sedangkan صَوْم tidak mengharuskan adanya niat ditambah dengan stop ujaran sebagaimana disyariatkan pada umat zaman dulu.

Dari segi morfologi (sharaf), muatan lafadz صِيَام memiliki makna mubalaghah (penekanan) dibanding صَوْم. Dalam pola timbangan kata, صِيَام juga mengacu pada wazan فِعَال yg memiliki makna musyarokah (gotong royong), gotong royong antara ruh dan jasad dalam rangka pengabdian seorang hamba pada Tuhannya. Sedangkan lafadz صَوْم sendiri merupakan akar kata dari صَامَ / فَعَلَ yang tidak memiliki arti musyarokah sama sekali.

Pendapat lain mengatakan, صَوْم dan صِيَام tidak ada bedanya, keduanya memiliki makna satu dan padu yakni menahan dari kegiatan seperti makan minum, ujaran unfaedah, dan tarikan-tarikan syahwat.

Dalam Quran kata صَوْم sendiri disebut hanya satu kali

( إنّي نذرت للرحمن صوماً فلن أكلم اليوم إنسيا (مريم : 26

ayat diatas sama sekali tidak menjelaskan puasa dari makan dan minum tapi lebih pada nadzarnya Siti Maryam untuk posomeneng (tidak bicara),. Tidak makan dan minum yang notabene bisa menggangu proses kehamilan menjadi qorinah tersendiri bahwa makna ayat diatas hanya diarahkan pada menahan ujaran saja. Sedangkan kata صِيَام dalam al-Quran disebut 7 kali dalam kasus yang berbeda, baik dalam kasus puasa romadlon, puasa sunnah atau puasa penebus dosa. (B. Subhan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here