Home Berita Tawadhu Santri Penting Dalam Mencari Ilmu

Tawadhu Santri Penting Dalam Mencari Ilmu

62
0

Bulakamba, Portal NUBrebes

Seberapa pun pencapaian ilmu kita, maka harus menjaga sikap ketawadhuan kepada kyai yang sudah memberikan ilmunya. Saat anda belajar ilmu nahwu Alfiyah Ibnu Malik, maka bila sudah hafal, jangan lupa hormat pada guru kita, jangan ada perasaan lebih pinter dari gurunya. Bisa saja generasi sekarang lebih pinter dari pada generasi yang dulu, tapi tetap saja, ulama pendahulu tetap lebih berkahi dan adabnya ulama yang dulu lebih tawadhu dibandingkan dengan ulama sekarang.

Demikian disampaikan oleh Sekretaris PWNU Jawa Tengah Dr KH M Arja Imroni, MA dari semarang yang mengisi tausyiyah Khotmil Quran di Pondok Pesantren Assalafiyah Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, minggu (21/04/2019).

Begitu khusyunya jamaah mendengarkan isi tausyiyah KH Arja,beliau kembali menjelaskan bahwa ada hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi,

خير القرن قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

Artinya : Sebaik baiknya kurun adalah kurunku (generasi sahabat) kemudian kurun orang-orang yang mengiringi/mengikuti mereka (tabiin) kemudian yang mengiringi mereka (tabi’ tabiin)

Yusuf Al Qordhowi berkomentar bahwa hadist ini sangatlah musykil (susah dipahami). Karena pada faktanya,kejayaan Islam bukanlah terjadi di masa sahabat justru terjadi pada masa beberapa generasi berikutnya yaitu masa berkembang dan munculnya berbagai bidang /disiplin ilmu agama. Akan tetapi menurut Kyai Arja Imroni,sekalipun kejayaan dan peradaban Islam telah maju pada masa itu,tetaplah generasi dan kurun sahabat adalah sebaik-baiknya masa.Karena pada masa itu lah ajaran agama Islam langsung disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW,sehingga para sahabat lebih memiliki mentalitas dan keimanan yang kokoh dibandingkan generasi berikutnya. Hal ini pun dicontohkan oleh beliau Bapak Kyai Arja Imroni tentang sifat dermawanya sahabat Abdurahman Bin Auf yang rela hartanya habis untuk kemaslahatan agama,dan mentalitas (jiwa) hidmahnya seorang Ibnu Abbas kepada Nabi SAW yang akhirnya menjadikan Ibnu Abbas sebagai pakar/ahli tafsir Al Quran.Begitu juga mentalitas beberapa sahabat nabi yang lain,semuanya luar biasa karena di dalam dadanya mereka itu berjuang dan membela mati-matian ilmunya Nabi, bahkan saat perang jihad fisabilillah, mereka berani mengeluarkan harta bendanya seperti unta, bahkan keluar uang saku sendiri-sendiri, jalanpun siap dan ikhlas untuk membela perjuangan nabi Muhammad SAW.

Perjuangan yang sudah diberikan walaupun miskin tetap mau menyediakan tenaga, materi dan perjuangan untuk membantu dakwahnya rosul, makanya untuk mengisi jejak rosul, diharapkan generasi sekarang mempunyai mental yang kuat dan mau mengamalkan ilmunya yang didapat agar menjadi penerang dan penerus ilmu nabi. Jangan mengharapkan dalam perjuangan membela islam kemudian mengharapkan materi yang lebih, dampaknya tidak memberikan berkah dan barokah.

Lanjut Kyai Arja, menghargai sesama muslim itu penting, seperti contoh saat anda diundang acara walimahan atau acara dari seseorang, maka sebagai bukti hadir diacara tersebut menjadi bagian dari menghormati sesama muslim, dan menjadikan gembira atau bungah pemberi undangan. Ini memberi makna pentingnya silaturokhim untuk ukhuwah islamiyah.

Ulama terdahulu dan alim, selalu menggunakan adab atau tawadhu dengan gurunya, mereka mengirimkan doa kepada gurunya walaupun gurunya sudah meninggal dunia, itu dikandung makna ada ikatan batin antara murid dengan gurunya. Bahkan setiap mau mengajarkan ilmu kepada santrinya diawali dengan tawasul kirim doa kepada guru mereka termasuk pengarang kitabnya. Betapa tawadhunya seorang murid kepada gurunya atas ilmu yang pernah diajarkan.(Bahrul Ulum)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here