Home Sejarah Thobaqot Ulama; Hirarki Keulamaan dalam Islam

Thobaqot Ulama; Hirarki Keulamaan dalam Islam

91
0

Bahwa dalam tingkatan hirarki keilmuan Islam ada peringkat-peringkatnya atau dikenal sebagai Thobaqotul Ulama. Tidak semua umat Islam adalah ulama. Dan tidak semua ulama adalah seorang mujtahid.

Peringkat tertinggi dalam hirarki keulamaan Islam memegang kunci suatu ketetapan hukum dalam sebuah madzhab. Tingkatan di bawahnya dan dibawahnya lagi bersifat hanya sebagai penerus dan pemilah dari ketetapan ketetapan yang dihasilkan oleh tingkatan di atasnya dan puncak tertinggi disebut sebagai mujtahid muthlaq.

Wadzifah-kewenangannya adalah menggali hukum langsung dari sumber utama; wahyu, yakni Al Qur’an dan Al-Hadits berdasarkan ushul yang dimiliki mereka. Al Imam Asy-Syafi’i adalah salah satu tokoh di tingkatan ini, yang tercatat sebagai pendiri madzhab Syafi’iyyah. Mereka memiliki ushul atau kaidah sebagai metode istinbathul hukmi, yakni eksplorasi atau mengeluarkan hukum yang berasal dari Al Qur’an dan Hadits berdasarkan ushul yang diasaskan itu.

Berikutnya adalah mujtahid madzhab atawa mujtahid fil madzhab. Mereka adalah para ulama yang mempunyai kemampuan menggali hukum tapi masih menggunakan kaidah dan dasar yang pada galibnya merujuk pada kaidah milik mujtahid muthlaq. Oleh karenanya, pendapat pendapat mereka tetap dinisbatkan pada mujtahid muthlaq. Dalam tingkatan ini misalnya ada Al Muzani yang merupakan salah satu murid langsung Imam Asy Syafi’i.

Selanjutnya ada mujtahid muqoyyad atau dalam sebutan lain sebagai Ashhabul Wujuh. Adalah ulama yang mampu menggali hukum dengan berdasar pada kaidah kaidah imamnya disebabkan karena belum terpenuhinya perangkat perangkat untuk berijtihad; mereka hanya mampu menyimpulkan suatu hukum dari nash (kaidah atau ushul) imam yang diikutinya, dengan kata lain tidak langsung mengeluarkan hukum langsung dari Al Qur’an atau Al-Hadits. Dalam level ini ada Imam Juwainy, Al Bulqiny, Al Mutawally dan Al Qoffal Al Kabir.

Di bawahnya ada dikenal sebagai al murojjih yakni¬†ulama yang mampu menghafal seluruh nash (dalil) imamnya dan sekaligus mampu menyeleksinya antara satu pendapat dengan pendapat lainnya. Namun mereka juga tidak mempunyai keahlian untuk menggali langsung dari sumber utama. Di level ini ada Imam An Nawawy dan Imam Ar Rofi’i.

Dari sini dapat dipahami bahwa, seorang ulama murojjih jika kedapatan beristinbath langsung dari sumber utama, maka pendapatnya tidak diinggap karena itu di luar kemampuannya.

Dibawahnya lagi, di level terakhir adalah An Naqolah; para ulama penuqil. Mereka mempunyai keahlian –terpercaya dalam–menukil pendapat pendapat imamnya saja dan tidak lebih dari itu. Atau lebih jelasnya tanpa menyeleksinya (tarjih) terlebih dahulu. Seperti Imam Ibn Hajar Al Haitamy. Kelebihannya di atas kita para awam ‘sesungguhnya’, adalah mereka lebih banyak hapalannya ketimbang kita akan nash imam dan hukum hukum yang dihasilkan dari nash imamnya, tanpa di lengkapi dengan kemampuan mentarjihnya. Dengan demikian mereka juga tidak mempunyai keahlian berijtihad langsung dari sumber-sumber primer.

Maka, para ulama menyebutkan, jika didapati pendapat ulama yang berstatus hanya sebagai naqolah yang sama sekali berbeda dengan para ‘pendahulunya’, pendapatnya tidak bisa untuk dijadikan rujukan. Bahkan semisal beliau menyeleksi diantara pendapat pendapat ulama selevel di atasnya, pendapatnya tidak bisa dikatakan sebagai pendapat yang rojih/unggul. Mengingat mereka tidak sampai pada tingkatan tarjih; hanya sebagai penukil saja.

Bahkan ulama dulu menyebut mereka yang berada pada level ini sebagai kelompok ‘awwam‘.

Demikian….
Sebagai renungan bagi kita generasi ‘turobul aqdam’. Agar ‘carut marut’ dalam kehidupan beragama kita sedikit tertata. Paling tidak mengerti kedudukan kita siapa. Jika Ibnu Hajar Al Haitamiy, ulama yang alim sedemikian itu hanya dikategorikan ‘awwam’ oleh ulama lainnya, lalu bagaimana kah dengan kita? Masihkah layak –walaupun hanya– disebut sebagai khodim para ulama?

Disarikan dari Al Bayan As Sadid, Syekh Jamil Al Husaini, hal. 24.

Ahmad Rofi’uddin Sujin
Pengurus RMI PCNU Kab. Brebes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here